Kembali ke Blog
Membangun Arsitektur Microservices yang Scalable
Engineering12 Oktober 2026

Membangun Arsitektur Microservices yang Scalable

R

Reternia Team

Penulis Artikel

Microservices bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak bagi aplikasi berskala besar. Transisi dari arsitektur monolith ke microservices memungkinkan tim engineering untuk bekerja lebih cepat dan melakukan deployment secara independen. Namun, seperti yang pernah ditekankan oleh Werner Vogels (CTO Amazon), 'Everything fails, all the time'. Oleh karena itu, merancang sistem yang tahan banting (resilient) sama pentingnya dengan membangun fitur itu sendiri.

Tantangan terbesar dalam ekosistem microservices adalah komunikasi antar layanan dan orkestrasi data. Di Reternia, kami mengadopsi pendekatan event-driven architecture menggunakan Kafka, serupa dengan cara Uber mengelola Domain-Oriented Microservice Architecture (DOMA). Pendekatan ini memastikan decoupling yang nyata, sehingga kegagalan pada satu layanan pembayaran tidak akan menyebabkan seluruh sistem e-commerce tumbang.

Lebih jauh lagi, kami menerapkan prinsip Chaos Engineering yang dipelopori oleh Netflix. Dengan secara sengaja mematikan layanan di production (secara terkontrol), kami dapat menguji seberapa kuat sistem failover dan auto-scaling yang telah dibangun. Pemantauan via Prometheus dan Jaeger memberikan visibilitas penuh, memastikan setiap latensi dapat diisolasi sebelum pengguna menyadarinya.